Home » Posts filed under Sunan at-Tirmizi
Showing posts with label Sunan at-Tirmizi. Show all posts
Hadis Sahih: Bertawakkal Seperti Burung
Imam
at-Tirmizi dengan
sanadnya meriwayatkan: Diceritakan kepada kami oleh Ali bin Said al-Kindi,
beliau berkata: diceritakan kepada kami oleh Ibnu al-Mubarak, daripada Haiwah
bin Syuraih, daripada Bakar bin Amru, daripada Abdullah bin Hubairah, daripada
Abi Tamim al-Jaisyani, daripada Umar bin al-Khattab, beliau berkata: Rasulullah
SAW bersabda:
«لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ
تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ
بِطَانًا»
“Seandainya kamu benar-benar
bertawakal kepada Allah, nescaya kamu diberi rezeki, sebagaimana burung
mendapat rezeki, dia pergi di pagi hari dengan perut kosong dan pulang di
petang hari dengan perut yang kenyang.”
Imam at-Tirmizi berkata: Hadis ini Hasan Sahih.
Tidak diketahui melainkan daripada bentuk ini sahaja. Abu Tamim al-Jaisyani
ialah (gelaran kepada) Abdullah bin Malik.
(HR at-Tirmizi di dalam Sunan
at-Tirmizi, bilangan: 2344)
Hadis Sahih: Dosa Seperti Gunung dan Lalat, Taubat
Imam At-Tirmizi dengan sanadnya meriwayatkan: Diceritakan
kepada kami oleh Hannad, beliau berkata: Diberitakan kepada kami oleh Abu
Mu`awiyah, daripada al-A`masy, daripada `Umarah bin `Umairm, daripada al-Haris
bin Suwaid, beliau berkata: Diceritakan kepada kami oleh Abdullah bin Mas`ud
dengan dua hadis, salah satu daripada dan satu lagi daripada orang lain.
Daripada Nabi SAW. Abdullah bin Mas`ud berkata:
إِنَّ
الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ فِي أَصْلِ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ
عَلَيْهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ وَقَعَ عَلَى أَنْفِهِ
قَالَ بِهِ هَكَذَا فَطَارَ
Seorang yang beriman akan melihat dosa-dosanya seperti dia berada di
lereng bukit, dia bimbang bukit itu akan menimpanya. Manakala orang yang
sombong pula melihat dosanya seperti lalat yang berada di atas hidung, dia
mengusirnya begini (mengibas), lalu ia terbang.
Kemudian,
Ibnu Mas`ud berkata lagi: Rasulullah bersabda:
" لَلَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ
أَحَدِكُمْ مِنْ رَجُلٍ بِأَرْضٍ دَوِيَّةٍ مُهْلِكَةٍ مَعَهُ رَاحِلَتُهُ
عَلَيْهَا زَادُهُ وَطَعَامُهُ وَشَرَابُهُ وَمَا يُصْلِحُهُ فَأَضَلَّهَا فَخَرَجَ
فِي طَلَبِهَا، حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ المَوْتُ قَالَ: أَرْجِعُ إِلَى مَكَانِي الَّذِي
أَضْلَلْتُهَا فِيهِ فَأَمُوتُ فِيهِ، فَرَجَعَ إِلَى مَكَانِهِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنُهُ
فَاسْتَيْقَظَ فَإِذَا رَاحِلَتُهُ عِنْدَ رَأْسِهِ عَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ
وَمَا يُصْلِحُهُ ": «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ» وَفِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ،
وَالنُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، وَأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Allah berasa gembira dengan taubat kalian berbanding taubat seseorang
yang berada di atas bumi yang tandus. Bersama-samanya ialah tunggangan yang
diletakkan bekalan, makanan, minuman, dan apa sahaja yang diperlukannya. Kemudian
tunggangannya itu sesat lalu lelaki itu keluar mencarinya. Sehingga hampir-hampir
kematian menjumpainya. Dia berkata: Aku kembali ke tempat yang mula-mula aku
dapati ia hilang, lalu biar aku mati di situ. Dia pun kembali ke tempatnya yang
asal sehinggalah matanya mengalahkannya (tertidur). Kemudian apabila dia
terjaga, dia dapati kenderaannya berada di sisi kepalanya. Di atas kendereaan
tersebut masih terdapat makanan, minuman dan apa yang diperlukannya.
Imam
at-Tirmizi berkata: Hadis ini Hasan Sahih.
(HR At-Tirmizi di dalam Sunan
at-Tirmizi, bilangan: 2497 dan 2498)
Takhrij Ringkas
Hadis ini juga boleh dirujuk di dalam Sahih
al-Bukhari: 6308, Musnad Ahmad: 3627 dan 3629, dan Syu`abul Iman: 6702.
Hadis Hasan: Ikutilah kejahatan (dosa) dengan kebaikan
Imam Muhammad bin Isa at-Tirmizi (W: 279H) dengan sanadnya meriwayatkan: Diceritakan
kepada kami oleh Muhammad bin Basyar, beliau berkata: diceritakan kepada kami
oleh Abdul Rahman bin Mahdi, beliau berkata: diceritakan kepada kami oleh
Sufyan, daripada Habib bin Abi Sabit, daripada Maimun bin Abi Syabib, daripada
Abu Dzar, beliau berkata: Rasulullah SAW berkata kepadaku:
«اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا
كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ
حَسَنٍ»
Bertaqwalah kepada Allah dalam apa jua keadaan.
Ikutilah kejahatan (dosa) dengan kebaikan yang akan menghapuskannya. Bergaullah
dengan manusia dengan akhlak bermutu.
(HR at-Tirmizi di dalam Sunan
at-Tirmizi, bilangan: 1987)
Kualiti Hadis:
Imam at-Tirmizi berkata: Hadis ini Hasan Sahih.
Ulasan Hadis:
Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah memberi ulasan :
Hadis ini adalah hadis yang agung, di dalamnya Rasulullah SAW menyebutkan hak-hak Allah dan hak-hak hamba. Hak Allah yang disebutkan adalah bertaqwa kepada-Nya dengan taqwa yang sejati. Iaitu menjaga diri dari murka dan azab Allah, dengan menjauhi larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya.
Wasiat taqwa ini adalah wasiat dari Allah untuk hamba-Nya dari yang paling awal hingga akhir, ini juga merupakan wasiat para Rasul kepada kaumnya, mereka berkata:
اعبدوا الله واتقوه
“Sembahlah Allah saja dan bertaqwalah kepada-Nya”
Allah Ta’ala membahas masalah taqwa dalam firman-Nya:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Baqarah: 177)
juga dalam firman-Nya:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Imran: 133)
kemudian Allah melanjutkan:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Al Imran: 134)
Allah Ta’ala mensifati orang-orang bertaqwa dengan iman yaitu pokok keimanan dan aqidahnya, dengan amal-amal zhahir dan amal-amal batin yang dilakukannya, juga dengan ibadah badan, ibadah maliyah (harta), kesabaran ketika mendapati dan menghadapi musibah. Juga dengan sifat pemaaf kepada orang lain, menghilangkan gangguan, berbuat baik kepada sesama. Juga dengan semangat untuk bertaubat ketika melakukan perbuatan maksiat atau berbuat zhalim kepada diri sendiri. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun memerintahkan dan mewasiatkan untuk konsisten dalam bertaqwa, dimana pun berada, kapan pun dan dalam keadaan apapun. Karena seorang hamba senantiasa sangat-sangat dituntut untuk bertaqwa, tidak ada satu kesempatan pun ia boleh melepaskan taqwa itu.
Lalu ketika seorang hamba tidak menunaikan dengan baik apa-apa yang menjadi hak dan kewajiban taqwa, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk melakukan hal yang dapat membayar dan menghapus kesalahan itu. Yaitu melakukan kebaikan (al hasanah) atas keburukan yang telah ia lakukan.
Al hasanah adalah istilah yang mencakup segala hal yang mendekatkan diri hamba kepada Allah Ta’ala. Al hasanah yang paling utama yang dapat membayar sebuah kesalahan adalah taubat nasuha, disertai istighfar dan kembali kepada Allah. Dengan berdzikir kepada-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan karunia-Nya setiap waktu. Dan diantara caranya adalah dengan membayar kafarah baik berupa harta atau amalan badaniyah yang telah ditentukan oleh syariat.
Selain itu, bentuk al hasanah yang dapat menebus kesalahan adalah sikap pemaaf kepada orang lain, berakhlak yang baik kepada sesama manusia, memberi solusi pada masalah mereka, memudahkan urusan-urusan mereka, mencegah bahaya dan kesulitan dari mereka. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” (QS. Huud: 114)
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
الصلوات الخمس، والجمعة إلى الجمعة، ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن ما اجتنبت الكبائر
“Shalat yang lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at selanjutnya, dari Ramadhan ke Ramadhan selanjutnya, semua itu menghapus dosa diantara rentang waktu tersebut selama dosa besar dijauhi”
Dan betapa banyak nash yang menyebutkan bentuk-bentuk ketaatan sebagai sebab datangnya ampunan Allah.
Dan yang dapat membuat Allah mengampuni kesalahan-kesalahan adalah musibah. Karena tidaklah seorang mukmin ditimpa musibah berupa bencana, gangguan, kesulitan, meskipun hanya berupa tusukan duri kecuali pasti jadikan hal itu sebagai kafarah atas dosa-dosanya. Musibah dapat berupa luputnya sesuatu yang disukai atau juga berupa mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik berupa pada jasad maupun pada hati, atau juga pada harta, baik yang eksternal maupun internal. Namun musibah itu bukanlah perbuatan hamba, oleh karena itu Nabi memerintahkan hal-hal yang berupa perbuatan hamba, yaitu menebus kejelekan dengan kebaikan.
Kemudian, setelah Nabi menyebutkan haq Allah dalam wasiat taqwa yang mencakup aqidah, amal batin dan amal zhahir, beliau menyebutkan:
وخالق الناس بخلق حسن
“Bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik”
Yang paling pertama dari akhlak yang baik adalah anda tidak mengganggu orang lain dalam bentuk apapun, dan engkau pun terjaga dari gangguan dan kejelekan mereka. Setelah itu anda bermuamalah dengan mereka dengan perkataan dan perbuatan yang baik.
Lalu bentuk akhlak baik yang lebih khusus lagi adalah lemah lembut kepada orang lain, sabar terhadap gangguan mereka, tidak bosan terhadap mereka, memasang wajah yang cerah, tutur kata yang lembut, perkataan yang indah dan enak didengar lawan bicara, memberikan rasa bahagia kepada lawan bicara, yang dapat menghilangkan rasa kesepian dan kekakuan. Dan baik juga bila sesekali bercanda jika memang ada maslahah-nya, namun tidak semestinya terlalu sering melakukannya. Karena candaan dalam obrolan itu bagai garam dalam makanan, kalau kurang atau kelebihan akan jadi tercela. Termasuk akhlak yang baik juga, bermuamalah dengan orang lain sesuai yang layak baginya, dan cocok dengan keadaannya, yaitu apakah ia orang kecil, orang besar, orang pandai, orang bodoh, orang yang paham agama atau orang awam agama.
Maka, orang yang bertaqwa kepada Allah, dan menunaikan apa yang menjadi hak Allah. Lalu berakhlak kepada orang lain yang berbeda-beda tingkatannya itu dengan akhlak yang baik. Maka ia akan mendapatkan semua kebaikan. Karena ia menunaikan hak Allah dan juga hak hamba. Dan karena ia menjadi menjadi orang yang muhsinin dalam beribadah kepada Allah dan muhsinin terhadap hamba Allah.
Pengajaran:
Imam at-Tirmizi berkata: Hadis ini Hasan Sahih.
Ulasan Hadis:
Syaikh Abdurrahman As Sa’di rahimahullah memberi ulasan :
Hadis ini adalah hadis yang agung, di dalamnya Rasulullah SAW menyebutkan hak-hak Allah dan hak-hak hamba. Hak Allah yang disebutkan adalah bertaqwa kepada-Nya dengan taqwa yang sejati. Iaitu menjaga diri dari murka dan azab Allah, dengan menjauhi larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya.
Wasiat taqwa ini adalah wasiat dari Allah untuk hamba-Nya dari yang paling awal hingga akhir, ini juga merupakan wasiat para Rasul kepada kaumnya, mereka berkata:
اعبدوا الله واتقوه
“Sembahlah Allah saja dan bertaqwalah kepada-Nya”
Allah Ta’ala membahas masalah taqwa dalam firman-Nya:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Baqarah: 177)
juga dalam firman-Nya:
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Al Imran: 133)
kemudian Allah melanjutkan:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Al Imran: 134)
Allah Ta’ala mensifati orang-orang bertaqwa dengan iman yaitu pokok keimanan dan aqidahnya, dengan amal-amal zhahir dan amal-amal batin yang dilakukannya, juga dengan ibadah badan, ibadah maliyah (harta), kesabaran ketika mendapati dan menghadapi musibah. Juga dengan sifat pemaaf kepada orang lain, menghilangkan gangguan, berbuat baik kepada sesama. Juga dengan semangat untuk bertaubat ketika melakukan perbuatan maksiat atau berbuat zhalim kepada diri sendiri. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun memerintahkan dan mewasiatkan untuk konsisten dalam bertaqwa, dimana pun berada, kapan pun dan dalam keadaan apapun. Karena seorang hamba senantiasa sangat-sangat dituntut untuk bertaqwa, tidak ada satu kesempatan pun ia boleh melepaskan taqwa itu.
Lalu ketika seorang hamba tidak menunaikan dengan baik apa-apa yang menjadi hak dan kewajiban taqwa, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk melakukan hal yang dapat membayar dan menghapus kesalahan itu. Yaitu melakukan kebaikan (al hasanah) atas keburukan yang telah ia lakukan.
Al hasanah adalah istilah yang mencakup segala hal yang mendekatkan diri hamba kepada Allah Ta’ala. Al hasanah yang paling utama yang dapat membayar sebuah kesalahan adalah taubat nasuha, disertai istighfar dan kembali kepada Allah. Dengan berdzikir kepada-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan karunia-Nya setiap waktu. Dan diantara caranya adalah dengan membayar kafarah baik berupa harta atau amalan badaniyah yang telah ditentukan oleh syariat.
Selain itu, bentuk al hasanah yang dapat menebus kesalahan adalah sikap pemaaf kepada orang lain, berakhlak yang baik kepada sesama manusia, memberi solusi pada masalah mereka, memudahkan urusan-urusan mereka, mencegah bahaya dan kesulitan dari mereka. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” (QS. Huud: 114)
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
الصلوات الخمس، والجمعة إلى الجمعة، ورمضان إلى رمضان مكفرات لما بينهن ما اجتنبت الكبائر
“Shalat yang lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at selanjutnya, dari Ramadhan ke Ramadhan selanjutnya, semua itu menghapus dosa diantara rentang waktu tersebut selama dosa besar dijauhi”
Dan betapa banyak nash yang menyebutkan bentuk-bentuk ketaatan sebagai sebab datangnya ampunan Allah.
Dan yang dapat membuat Allah mengampuni kesalahan-kesalahan adalah musibah. Karena tidaklah seorang mukmin ditimpa musibah berupa bencana, gangguan, kesulitan, meskipun hanya berupa tusukan duri kecuali pasti jadikan hal itu sebagai kafarah atas dosa-dosanya. Musibah dapat berupa luputnya sesuatu yang disukai atau juga berupa mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik berupa pada jasad maupun pada hati, atau juga pada harta, baik yang eksternal maupun internal. Namun musibah itu bukanlah perbuatan hamba, oleh karena itu Nabi memerintahkan hal-hal yang berupa perbuatan hamba, yaitu menebus kejelekan dengan kebaikan.
Kemudian, setelah Nabi menyebutkan haq Allah dalam wasiat taqwa yang mencakup aqidah, amal batin dan amal zhahir, beliau menyebutkan:
وخالق الناس بخلق حسن
“Bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik”
Yang paling pertama dari akhlak yang baik adalah anda tidak mengganggu orang lain dalam bentuk apapun, dan engkau pun terjaga dari gangguan dan kejelekan mereka. Setelah itu anda bermuamalah dengan mereka dengan perkataan dan perbuatan yang baik.
Lalu bentuk akhlak baik yang lebih khusus lagi adalah lemah lembut kepada orang lain, sabar terhadap gangguan mereka, tidak bosan terhadap mereka, memasang wajah yang cerah, tutur kata yang lembut, perkataan yang indah dan enak didengar lawan bicara, memberikan rasa bahagia kepada lawan bicara, yang dapat menghilangkan rasa kesepian dan kekakuan. Dan baik juga bila sesekali bercanda jika memang ada maslahah-nya, namun tidak semestinya terlalu sering melakukannya. Karena candaan dalam obrolan itu bagai garam dalam makanan, kalau kurang atau kelebihan akan jadi tercela. Termasuk akhlak yang baik juga, bermuamalah dengan orang lain sesuai yang layak baginya, dan cocok dengan keadaannya, yaitu apakah ia orang kecil, orang besar, orang pandai, orang bodoh, orang yang paham agama atau orang awam agama.
Maka, orang yang bertaqwa kepada Allah, dan menunaikan apa yang menjadi hak Allah. Lalu berakhlak kepada orang lain yang berbeda-beda tingkatannya itu dengan akhlak yang baik. Maka ia akan mendapatkan semua kebaikan. Karena ia menunaikan hak Allah dan juga hak hamba. Dan karena ia menjadi menjadi orang yang muhsinin dalam beribadah kepada Allah dan muhsinin terhadap hamba Allah.
Pengajaran:
- Takwa kepada Allah merupakan kewajiban setiap muslim dan ia merupakan asas diterimanya amal Soleh..
- Bersegera melakukan ketaatan setelah keburukan secara langsung, karena kebaikan akan menghapus keburukan.
- Bersungguh-sungguh menghias diri dengan akhlak mulia.
- Menjaga pergaulan yang baik merupakan kunci kejayaan, kebahagiaan dan ketenangan di dunia dan akhirat. Hal tersebut dapat menghilangkan dampak negatif pergaulan.
- Hadis ini menunjukkan kepentingan bertaubat apabila menyedari diri telah melakukan dosa.
Hadis Sahih: Allah Berkata- Aku Tidak Peduli!
Imam Muhammad bin Isa at-Tirmizi (W: 279H) dengan sanadnya meriwayatkan: Diceritakan
kepada kami oleh Abdullah bin Ishaq al-Jauhari al-Basri, beliau berkata:
diceritakan kepada kami oleh Abu `Asim, beliau berkata: diceritakan kepada kami
oleh Kasir bin Fa’id, beliau berkata: diceritakan kepada kami oleh Sa`id bin
`Ubaid, beliau berkata: aku mendengar Bakar bin Abdullah al-Muzani, beliau
berkata: diceritakan kepadaku oleh Anas bin Malik, beliau berkata: Aku
mendengar Rasulullah SAW berkata:
«قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ
وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ
لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلاَ أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ
عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، وَلاَ أُبَالِي، يَا ابْنَ
آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ
تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَة.»
Allah tabaraka wa taala telah berfirman: Wahai
anak cucu Adam! Selagimana engkau memohon dan mengharap kepada-Ku, nescaya Aku
akan ampunkan engkau, Aku tidak peduli! Wahai anak cucu Adam, sekiranya
dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun daripadaku, nescaya
Aku akan ampunkan engkau, Aku tidak peduli! Wahai anak cucu Adam, sekiranya
engkau datang kepada-Ku dengan dosa menutupi bumi, kemudian menemuiku dalam
keadaan tidak mempersekutukan Aku dengan suatu apa pun, necaya Aku akan
menemuimu dengan keampunan sepenuh bumi!
(HR at-Tirmizi di dalam Sunan
at-Tirmizi, bilangan: 3540)
Hadis Dhoif: Mati Sebagai Kristian atau Yahudi Apabila Tidak Kerjakan Haji.
Imam at-Tirmizi dengan sanadnya meriwayatkan: Diceritakan
kepada kami oleh Muhammad bin Yahya al-Quthoie al-Basri, beliau berkata: Diceritakan
kepada kami oleh Muslim bin Ibrahim, beliau berkata: Diceritakan kepada kami
oleh Hilal bin Abdullah – pembantu Rabiah bin Amru bin Muslim al-Bahily, beliau
berkata: Diceritakan kepada kami oleh Abu Ishaq al-Hamdani, daripada al-Haris,
daripada Ali, beliau berkata: Rasulullah bersabda:
مَنْ مَلَكَ زَادًا وَرَاحِلَةً تُبَلِّغُهُ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ وَلَمْ
يَحُجَّ فَلَا عَلَيْهِ أَنْ يَمُوتَ يَهُودِيًّا، أَوْ نَصْرَانِيًّا، وَذَلِكَ
أَنَّ اللَّهَ يَقُولُ فِي كِتَابِهِ: {وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ البَيْتِ
مَنْ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا} [آل عمران: 97] "
Sesiapa yang mempunyai bekalan dan kenderaan
yang boleh menyampaikannya ke Baitullah, tetapi ia tidak menunaikan haji maka tidak ada halangan baginya mati
sebagai Yahudi atau Nasrani kerana Allah telah berfirman di
dalam Al-Quran (yang bermaksud): “Dan Allah mewajibkan manusia mengerjakan
ibadat haji (dengan) mengunjungi Baitullah iaitu sesiapa yang mampu dan
berkuasa sampai kepadanya’- Ali Imran 97.
(HR at-Tirmizi, di dalam Sunan
at-Tirmizi, bilangan 812)
Ulasan Kualiti Hadis
Al-Albani menyatakan hadis ini Dhoif. Kenyataan
beliau dikuatkan oleh ulasan Imam at-Tirmizi sendiri.
Imam at-Tirmizi berkata: Hadis ini ghorib
(ganjil). Tidak diketahuinya melainkan dengan bentuk ini. Di dalam isnadnya ada
perbincangan. Hilal bin Abdullah adalah seorang yang tidak dikenali (Majhul),
sedangkan al-Haris pula adalah didhoifkan di dalam hadis.
WallahuA`lam.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)